Jumat, 04 Mei 2012

Persepsi : Dari dalam melihat keluar




Dunia persepsi (perceptual world)
Persepsi (perception) dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartika sesuatu.
Sebagaian besar dari kita menyadari bahwa dunia sebagaimana kita lihat tidak selalu sama dengan dunia dalam “kenyataannya”. Jawaban kita tergantung pada apa yang kita dengar, bukan pada apa yang sesungguhnya telah dikatakan..
           
Pengaruh kebutuhan kita terhadap persepsi kita
Gambar yang ambigu tersebut adalah bukti lain dari suatu pengamatan yang lumrah, misalnya bahwa orang melihat segala sesuatu secara berbeda dengan orang lainnya., bahwa dunia tergantung pada bagaimana kita melihatnya   
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adala penting karena pokok persoalan yang utama dari “hubungan antar manusia (human-relations)” adalah untuk memperhatikan cara-cara yang dipakai oleh individu agar dapat mempengaruhi perilaku individu lainnya. Jika benar bahwa orang berperilaku berdasarkan persepsinya terhadap dunia, maka mengubah perilaku ke arah suatu tujuan yang tealah ditentukan dapat dipermudah dengan jalan memahami persepsi pada saat ini dari individu itu terhadap dunia. Karena jika ada sesuatu kesalahan dalam hubungan antar manusia yang bersifat umum yang dibuat oleh para atasan organisasi dalam hubungan mereka dengan para bawahan. Kesalahan itu terletak dalam mengasumsikan bahwa dunia yang “sebenarnya” adalah semua yang menganggap bahwa setiap orang bekerja untuk tujuan yang sama dengan orang lain, bahwa fakta-fakta berbicara dengan sendirinya.
            Tetapi jika orang-orang memang bertindak atas dasar persepsi mereka, maka persepsi seseorang akan berbeda dengan orang lainnya. Misalnya, bagaimana sang manajer ingin mengetahui apa yang dapat di harapkannya? Apakah yang akan menentukan cara orang-orang tertentu memandang hal-hal tertentu?
            Persepsi orang ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan mereka, misalnya : ketika para karyawan perusahaan diminta untuk menerangkan tentang teman-teman sekerja mereka, mereka lebih banyak berbicara tentang para atasan mereka (orang-orang yang lebih penting bagi kebutuhan-kebutuhan mereka) ketimbang tentang teman setingkat mereka atau bawahan mereka, dan sebagainya.
            Tetapi masalahnya lebih rumit daripada itu. Orang mungkin melihat apa yang penting bagi kebutuhan-kebutuhan mereka, tetapi apakah ini berarti bahwa orang ingin melihat apa yang mereka lihat, ataukah mereka melihat apa yang tidak ingin dilihatnya? Harapan-harapan dan sekaligus ketakutan-ketakutan adalah penting bagi kebutuhan-kebutuhan seseorang. Jawabannya ialah bahwa kita melihat keduanya, tetapi sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu. Kita membesar-besarkan suatu pujian dari atasan yang kedudukannya jauh lebih tinggi diatas kita di dalam organisasi, tetapi kita juga membesar-besarkan suatu kata celaan. Kadang-kadang kita justru tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap segala sesuatu yang sangat menyangkut diri kita.

Persepsi yang selektif
            Kemudian, apakah peranan dari persepsi yang selektif? Jawaban: jika seseoarng memeriksa kembali ingatan-ingatannya tentang masa lampau, ia mungkin menemuklan bahwa ingatannya tentang hal-hal yang positif dan yang memuaskan adalah lebih baik daripada tentang hal-hal yang negative serta yang tidak memuaskan misalnya: pimpinan ini berpendapat bahwa para anak buahnya yang lebih muda seharusnya lebih efektif jika mereka dapat membereskan dengan cepat keputusan-keputusan kecil yang tidak mengenakkan ini seperti halnya yang telah mereka lakukan terhadap keputusan-keputusan yang besar.
Ada dua kaidah kita tentang persepsi yang selektif adalah:
(1) melihat kepada hal-hal yang member harapan yang membantu memuaskan kebutuhan.
(2) mengabaikan hal-hal yang agak mengganggu.
            Misalnya, walaupun seseorang berhasil mengabaikan bisik-bisik yang samar-samar, tetapi seseorang di belakang tiba-tiba berteriak, atau walaupun seseoarng berhasil mengabaikan bom-H, sebuah bom-H jatuh di kota London. Pada saat-saat seperti ini, tatkala kecemasan menjadi kuat dan berbahaya, orang akan berhenti menahan diri dan mulai menyerang. Mereka yang tadinya mengabaikan gangguan tersebut sekarang mulai mengarahkan semua perhatian terhadapnya. Pembalikan ini nampaknya terjadi dengan tiba-tiba, pada suatu titik tertentu. Gangguan yang tadinya jauh, sekarang semakin mendekat sampai pada suatu batas di mana ia menjadi sangat nyata, sangat berbahaya, dan sangat mengancam sehingga kita berbalik, membuka mata lebar-lebar, dan memusatkan perhatian kita sepenuhnya kepada hal yang sebelumnya telah kita abaikan.
            Kaidah ketiga adalah: Menaruh perhatian kepada hal-hal yang betul-betul berbahaya. Gambarannya keseluruhannya sekarang mulai nampak seperti ini : Orang melihat kepada hal-hal yang mereka anggap akan membantu memuaskan kebutuhan-kebutuahn; mengabaikan hal-hal yang menganggu; dan kemudian melihat kepada gangguan-gangguan yang berlangsung lama dan yang meningkat.
            Dalam bab yang terdahulu kita telah menyatakan bahwa seseorang yang telah menjumpai suatu dunia yang secara relatif siap menolongnya mungkin sekali memandang lingkungannya sebagai sesuatu yang secara potensial siap menolongnya. Namun demukian, jika dunia sebagian besar tealah membuatnya mengalami frustrasi, maka akan lebih banyak hal-hal yang di dalamnya terutama hal-hal yang baru, akan di lihat sebagai hal-hal yang kemungkinan besar berbahaya. Karena berbahaya, maka harus dihindarkan. Tetapi, hal ini tampaknya bertentangan dengan asas, walaupun sebetulnya tidak, yaitu bahwa untuk dapat di hindari, maka hal yang berbahaya itu harus dihindari terlenih dahulu. Maka untuk melindungi dirinya dari hal-hal yang lebih tidak aman, orang yang merasa tidak aman iti harus melihat terlebih dahulu hal yang akan membangkitkan rasa ketidakamanan dan kemudian berusaha untuk mengingkari terhadap dirinya sendiri bahwa ia telah melihatnya.

Proyeksi dunia yang dilihat
            Masalah utama dalam bab ini, yakni bahwa dunia sebagaimana dilihat merupakan dunia yang penting bila ditinjau dari segi perilaku, mendasari perkembangan dari tes proyeksi (proyective test). Mula-mula tes proyeksi dirancang untuk mendiagnosa penyimpangan-penyimpangan dalam kepribadian, tetapi tes proyeksi juga dipakai secara luas dalam industry. Ide yang sama juga mendasari apa yang disebut oleh para peneliti pemasaran sebagai “penelitian motivasi” terhadap sikap pembeli, teknik-teknik untuk menemukan pandangan pribadi orang tentang “fakta-fakta” periklanan serta rancangan produksi.

Persepsi dan manajemen
            Untuk tujuan manajemen, dunia perceptual jelas sangat penting. Apabila perhatian seseorang sebagai seorang penyelia (supervisor) atau konselor atau anggota komisi adalah mencoba mengadakan beberapa perubahan dalam perilaku orang lain, dan jika perilaku saat ini sebagian besar ditentukan oleh persepsi mereka terhadap lingkungan, maka adalah sangat penting bagi seseorang untuk berusaha memahami keadaan-keadaan yang mungkin mempengaruhi perubahan perilaku mereka.
            Misalnya, para manajer mengasumsikan hampir secara universal bahwa para bawahan menghendaki kenaikan pangkat. Namun demikian, lebih dari seorang bawahan dihalau kea rah kepanikan dan keputusan, karena ia secara psikologis merasa dipaksa untuk menerima suatu kenaikan pangkat yang tak seorangpun (kadang-kadang bahkan dirinya sendiri) mempedulikan untuk mengetahui bahwa ia sebetulnya tidak menginginkannya.
            Seringkali asumsi-asumsi tentang persepsi orang lain adalah salah karena asumsi-asumsi itu tidak lengkap. Seseorang mungkin dapat mengasumsikan dengan betul bahwa para karyawan menginginkan lebih banyak uang, tetapi ia mungkin gagal untuk memahami bahwa lebih banyak uang adalah tepat selama masih berada di dalam suatu kerangka kebebasan tertentu. Ini adalah masalah bapakisme (paternalisme). Kadang-kadang masalahnya hanyalah kekurangan pekaan terhadap orang-orang lain.
Ada sebuah contoh lagi. Para manajer penjualan sering mengeluh tentang kesukaran-kesukaran yang mereka jumpai dalam menyuruh para wiraniaga (salesman) melakukan kunjungan-kunjungan yang “dingin”. Para wiraniaga mengatakan bahwa mereka terlau sibuk, tau ada prospek yang lebih bagus, atau harus mengejar ketinggalan dalam hal membuat beberapa laporan. Apakah mereka malas? Ataukah hanya sekedar mempertahankan diri – mungkin secara tidak sadar-terhadap suatu ancaman yang mereka lihat? Jika hal itu suatu proses pertahanan, ada dua cara yang umum dimana para manajer dapat mencoba untuk menggoncangkan para wiraniaga sehingga goyah. Ia dapat mengajar mereka untuk merasa enak dalam melakukan kunjungan-kunjungan dingin, atau ia dapat mengubah ancaman yang ringan menjadi ancaman yang berat sehingga tugas itu tak dapat diabaikan lagi. Tetapi bila ia memilih cara yang kedua maka ia lebih baik memikirkan tentang adanya akibat sampingan.



Melihat Diri Seseorang
Sampai saat ini kita telah membicarakan tentang persepsi terhadap benda benda dan orang lain. Tetapi salah seorang dari orang orang yang kita lihat adalah dirinya sendiri, sebagai mananya, dan juga sabagai mana ia inginkan orang lain melihatnya. Setiap orang menopang perbuatannya sendiri dihadapan dunia , sebagaimana adanya, dalam suatau usaha untuk membuat orang orang lain melihat kita sebagai seorang yang dihargai.
            Pada masa dini hidup kita, kita telah mulai mempelajari  jenis kelompok mana yang ingin kita masuki, jenis tingkatan sosial mana yang kita cita citakan, dan jenis status mana yang kita capai. Dua orang manusia mungkin mempunyai kebutuhan yang sama kuat akan status harga diri, tetapi jika masing masing disebarkan didalam lingkungan yang saling berbeda,
            Para remaja sering sangat canggung selagi mereka berjuang untuk menyempurnakan tindakan – tindakan pribadi mereka. Mereka nampak menganggap sangat penting untuk kelihatran sebagaiapa yang mereka sangsikan tentang tentang diri mereka yang sesungguhnya. Dikemudian hari mereka menjadi lebih ahli, baik karena tindakan – tindakan mereka yang menjadi lebih baik maupun karena tindakan – tindakan mereka yang jauh dari pada yang dilakukan oleh para aktor.
            Perhatikanlah bahwa tindakan – tindakan kita adalah fungsional bagi kita. Tindakan – tindakan itu dilakukan baik oleh para remaja maupun para orang dwwasa karena alasan – alasan yang tepat. Suatu tindakan adalah suatu cara untuk mengisi sebuah peranan. Hal itu juga merupakan suatu cara untuk melindungi bagian – bagian diri kita yang rapuh terhadap serangan yang tidak nyata maupun yang nyata. Tetapi tindakan kita adalah efektif dalam melakukan fungsinya hanya apabila orang – orang lain menerimanya. Dan orang – orang lain biasanya menerima tindakan itu apabila kesenjangan antara tindakan kita dengan perkiraan mereka tentang diri kita yang “sesungguhnya” kecil. Orang  lain cenderung untuk menjadi penilaian yang saksamajuga. Maka masalah tentang tindakan timbul apabila jarak antara tindakan dengan kenyataan bertambah jauh.
            Tetapi meskipun tindakan – tindakan kita fungsional, namun hal itu memberikan sumbangan kepada suatu dunia sosial yang penuh dengan sinyal – sinyal penyimpangan. Anda mengatakan kepada saya bahwa anda kuat, bergairah kepada dunia, dan tegas (dan mungkin anda demikian – atau mungkin juga tidak), dan saya sibuk mengkomunikasikan kepada anda bahwa saya bijaksana, penuh pengertian dan secara intelektual menimbulkan semangat, yang semua itu merupakan kepribadian yang saya inginkan (dan mungkin memang sesungguhnya – atau mungkin juga tidak). Kita berdua  telah mempraktekkan tindakan –tindakan tersebut. Dengan demikian kita telah mengembangkan cara – cara yang halus untuk dapan meyakinkan, yaitu cara – cara yang belum pernah diimpikan oleh anak remaja yang bodoh sekalipun. Tetapi kita juga telah mengembangkan cara cara yang cerdik untuk mengetahui tindakan orang lain.
            Hubungan kita bahkan menjadi lebih dikacaukan oleh kenyataan bahwa kita melihat satu sama lain melalui kacamata kebutuhan masing masing. Kita memberikan kepada perilaku anda makna – makna yang telah kita pelajari, yang mungkin tidak tepat. Selagi anda berdiri disana dan mencoba untuk memancarkan kekuatan dan ketagasan, saya melihat anda sebagai orang yang kurang ajar dan tidak matang. Dan anda, yang menginginkan tindakan dan pengakuan, melihat kepada kepada usaha – usaha saya yang tenang dan bijaksana sebagai kebodohan dan kekurangan imaginasi. Melihat hal ini keanehannya bukanlah terletak pada kenyataan bahwa kita menemukan kesukaran yang sungguh – sungguh untuk memahami satu sama lain, tetapi sekaligus bahwa kita juga mampu untuk memahami satu sama lain.
            Maka masalah besar yang utama adalah masalah kelihatan, bagaimana mendapatkan informasi yang lebih saksama tentang orang – orang lain yaitu mengukur ketidak cocokan antara seseorang sebagaimana ia bertindak dengan dia sebagai pribadi “yang sesungguhnya.” Malasah kedua adalah mengukur sejauh mana kebenaran dari tindakan kita. Karena tentu saja kita berada dalam kesukaran yang besar jika diri kita yang kehendaki untuk kita perlihatkan kepada dunia telah kelihatan sangat jelek, sangat lemah, dan sangat jelas sehingga setiap orang lain menganggapnyatak berarti. Kuta berada dalam keadaan yang jelek jika orang – orang disekitar kita mengatakan : “Ada seseorang yang berusaha untuk bertindak tegas dan yakin terhadap dirinya sendiri, pada hal dalam kenyataan yang jelas, sejelas hidung yang menempel pada wajah anda ; bahwa ia sesungguhanya tidak yakin, tidak tegas sera cemas.”
            Dengan penalaran ini, yaitu jika kita dapat membuat orang orang lain memberikan kepada kiat umpan balik yang tepat, maka mereka dapat memberika bantuan sungguh – sungguh kepada kita untuk mengusahakan apa yang kita harapkan yaitu agar kita lebih menyerupai diri kita yang sesungguhnya, dan untuk mengurangi keraguan serta kecemasan didalam proses tersebut.

Segi Sosial dari Persepsi
            Persepsi ini tanpa mengingatkan kepada pembaca bahwa salah satu penyumbang utama bagi cara ia melihat dunia adalah berasal dari kelompoknya serta keanggotaannya dalam masyarakat. Kita telah “disosialisasikan “ oleh lingkungan kita, yang berarti kita belajar untuk melihat dunia melalui lensa lensa menyimpang tertentu dari bermacam macam teman kita. Jika kita wanita, maka kita belajar untuk melihat dunia sebagai mana wanita pada masa kini dan pada kebudayaan kita diperkirakan melihatnya. Jika kita memperoleh gelar Ph. D. dalam ilmu fisika, kita mungkin tidak hanya belajar ilmu fisika, tetapi melihat seins (science) dengan huruf besar S, hampir hampir seperti suatu agama. Dan jika kita menjadi anggota suatu kelompok persaudaraan atau bagian pemasaran dari Perusahaan X atau dari British Civil Service, maka kita semua dituntun (sehingga seseorang dapat membacanya “menyimpang secara sosial”) untuk melihat dunia sebagai mana diharpkan oleh kelompok kelompok tersebut dan juga dalam menentukan teman teman serat musuh musuh kita.
            Tekana tekanan sosial terhadap persepsi ini teramat kuat dan meliputi banyak hal. Tekanan tekanan itu cukup kuat untuk memaksa orang orang yang berakal sehat melihat garis yang pendek senagai garis yang panjang, atau obyek sasaran yang tidak bergerak sebagai bergerak. Jika kita mengetahui sedikit tentang “sosialisasi” yang telah dipaksakan kepada seseorang, maka kita tidak dapat meramalkan banyak sekali macam persepsi yangb selektif dengan sangat tepat. Kita dapat menebak bagaimana kira kira sebagian dari persepsinya dalam bidang agama, politik, seks, dan sejumlah besar dimensi lain.
            Makna persepsi bersifat ambigu. Tafsiran kita secara keseluruhan tentang kenyataan, gagasan gagasan kita tentang apa yang benar dan, untuk sebagian besar, apa yang penting dan apa yang betul berasa dari cara cara yang telah diajarkan kepada kita secara selektif untuk melihat dunia.

Ringkasan
Orang orang melihat segala sesuatu secara berbeda satu sama lain. Bahkan “fakta fakta” sekalipun mungkin nampak sangat berbeda bagi orang yang berlainan.Faktor yang palin penting yang menentukan pandangan seseorang terhadap dunia adalah relevansinya dengan kebutuhan kebutuhan dirinya. Hal hal yang memuaskan kebutuhan seseorang akan lebih cepat terlihat. Tetapi hal hal yang nampak merupakan rintangan, jika tidak mengancam secara kritis, mungkin juga dilihat dengan cepat, hanya kemudian untuk diingkari sehingga nampak seperti tidak pernah dilihat sama sekali. Dengan mengingkari rintangan, orang orang “melindungi” diri mereka sementara daripadanya. Jika rintanga itu sungguh sungguh menjadi berbahaya, orang orang membuka mata lebar lebar dan menghadapi rintangan tersebut.
Salah satu dari hal hal yang kita persepsikan ituadalah diri kita sendiri dan orang lain. Untuk melindungi dan meningkatkan diri kita, kita mencoba untuk memanipulasi gambar diri kita yang dilihat oleh orang lain dengan memasang sebuah kedok yang akan membuat mereka mengira kita sesuai dengan yang kita inginkan. Masalah tindakan kita dan bagaimana mengusahakannya agar berhasil, terutama tergantung pada kecakapan kita untuk mengenal reaksi reaksi dari hadirin secara saksama. Dan reaksi reaksi hadirin yang saksama sulit didapat karen hadirin juga sedang bertindak.
Mengabaikan perbedaan perbedaan dalam persepsi sama dengan mengabaikan suatu faktor penentu yang utama dari perilaku. Namun adalah mudah untuk mengasumsikan secara tidak beralasan bahwa setiap orang melihat dunia dengan perspektif yang sama sebagaimana pemirsa. Komunikasi yaituyang saling memberikan  umpan balik adalah ukuran yang paling baik untuk mengoreksi.
            Proses keseluruhan yang kita sebut “sosialisasi” dapat dipandang sebagai suatu proses belajar mengenai persepsi yaitu suatu cara melihat dunia dalam cara yang diharapkan oleh masyarakat kita.


Sumber : 
Leavitt, Harold. 1978. Psikologi Manajemen. Jakarta : Penerbit Erlangga

Persepsi Konsumen

  1. Pengertian Persepsi
Persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan memaknakan kesan-kesan indera untuk dapat memberikan arti terhadap lingkungannya. Apa yang seseorang persepsi terhadap sesuatu dapat berbeda dengan kenyataan dengan kenyataan yang objektif.
Secara etimologi persepsi berasal dari bahasa latin perceptio yang berarti menerima atau mengambil. Persepsi adalah suatu proses dengan mana berbagai stimuli dipilih, diorganisir, dan diinterpretasi menjadi informasi yang bermakna.
Menurut Stephen P. Robbins (1998), persepsi adalah suatu proses pengorganisasian dan pemaknaan terhadap kesan-kesan sensori untuk memberi arti pada lingkungannya. Menurut Fred Luthans (1992) mengatakan proses persepsi dapat didefinisikan sebagai interaksi yang rumit dalam penyeleksian, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus. Sedangkan menurut Milton (1981) mengatakan persepsi adalah proses seleksi, organisasi dan interpretasi stimulus yang berasal dari lingkungan.
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah suatu proses dengan mana berbagai stimuli dipilih, diorganisir, dan diinterpretasi menjadi informasi yang bermakna.

  1. Proses persepsi
Prose terjadinya persepsi meliputi :
1)     Proses Fisis
Dimana objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera.
2)     Proses Fisiologis
Stimulus yang diterima alat indera kemudian dilanjutkan oleh saraf sensoris ke otak.
3)     Proses Psikologis
Terjadi proses pengolahan otak, sehingga individu menyadari tentang apa yang ia terima dengan alat indera sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterima.


  1. Persepsi Konsumen
Persepsi konsumen adalah proses dimana seseorang mengorganisir dan mengartikan kesan dari panca indera dalam tujuan untuk memberi arti dalam lingkungan mereka (Robbins, 1998) . persepsi konsumen ini sangat penting dipelajari karena perilaku konsumen karena perilaku konsumen didasarkan oleh persepsi mereka tentang apa itu kenyataan dan bukan kenyataan itu sendiri. Menurut shiffman dan kanuk (1997)  persepsi akan sesuatu berasal dari interaksi antara dua jenis faktor :
1.      Faktor stimulus, yaitu karakteristik secara fisik seperti ukuran, berat, warna atau bentuk. Tampilan suatu produk baik kemasan maupun karakteristik akan mampu menciptakan suatu rangsangan pada indra manusian, sehingga mampu menciptakan sesuatu persepsi mengenai produk yang dilihatnya.
2.      Faktor individu, yang termasuk proses didalamnya bukan hanya pada panca indra akan tetapi juga pada proses pengalaman yang serupa dan dorongan utama serta harapan dari individu itu sendiri.
Dalam persepsi seseorang juga melalui proses seleksi. Seleksi adalah proses seseorang memilih dan menentukan marketing stimuli karena tiap individu adalah unik dalam kebutuhan, keinginan dan pengalaman, sikap dan karakter pribadi masing-masing orang. Menurut Shiffman dan Kanuk (2000) dalam seleksi ada proses yang disebut selective perception concept. Adapun selective selective perception concept, yaitu :
1.      Selective Exposure
Konsumen secara efektif mencari pesan menemukan kesenangan atau simpati mereka secara aktif menghindari kesakitan atau ancaman disisi lainnya. Mereka secara efektif membuka diri mereka kepada iklan-ikaln yang menentramkan hati mereka mengenai kebijaksanaan tentang kepuasaan pembeliannya.
2.      Selective Attention
Konsumen mengadakan transaksi pemilihan yang bagus dengan tujuan perhatian mereka berikan pada rangsangan komersial. Mereka mempunyai kesadaran tinggi terhadap rangsangan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Jadi konsumen mungkin untuk mengingat iklan untuk prodek yang dapat memuaskan kebutuhan mereka dan mengabaikan yang tidak mereka butuhkan.
3.      Perceptual Defense
Konsumen secara bawah sadar menyaring rangsangan yang mereka temukan ancaman psikological, meskipun telah terdapat pembukaan. Jadi ancaman atau sebaliknya rangsangan yang merusak mungkin lebih sedikit diterima secara sadar daripada rangsangan netral pada level pembukaan yang sama.
4.      Perceptual Blocking
Konsumen melindungi diri mereka dari rangsangan-rangsangan yang mereka anggap negatif dan mempunyai pengaruh buruk bagi diri mereka.

  1. Karakteristik seseorang mempengaruhi persepsi
Menurut Robbins  (1998) persepsi dapat dipengaruhi oleh karakter seseorang. Karakter tersebut dipengaruhi oleh :
1.      Attitudes
Dua individu yang sama, tetapi mengartikan sesuatu yang dilihat itu berbeda satu dengan yang lain.
2.      Motives
Kebutuhan yang tidak terpuaskan yang mendorong individu dan mungkin memiliki pengaruh yang kuat terhadap persepsi mereka.
3.      Interests
Fokus dari perhatian kita sepertinya dipengaruhi oleh minat kita, karena minat seseorang berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan oleh seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda dari apa yang dirasakan oleh orang lain.
4.      Experiences
Fokus dari karakter individu yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu seperti minat atau interest individu. Seseorang individu merasakan pengalaman masa lalu pada sesuatu yang individu tersebut hubungkan dengan hal yang terjadi sekarang.
5.      Expectations
Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan dari apa yang terjadi sekarang.


  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi
Menurut Nugroho J. Setiadi (2003), Faktor yang mempengaruhi persepsi adalah penglihatan dan sasaran yang diterima dan dimana situasi persepsi terjadi penglihatan.
Tanggapan yang timbul atas rangsangan akan dipengaruhi sifat-sifat individu yang melihatnya,, sifat yang dapat mempengaruhi persepsi yaitu :
1.      Sikap
Sikap yang dapat mempengaruhi positif atau negatifnya tanggapan yang akan diberikan seseorang.
2.      Motivasi
Motif merupakan hal yang mendorong seseorang mendasari sikap tindakan yang dilakukannya.
3.      Minat
Merupakan faktor lain yang membedakan penilaian seseorang terhadap suatu hal atau objek tertentu, yang mendasari kesukaan ataupun ketidaksukaan terhadap objek tersebut.
4.      Pengalaman masa lalu
Dapat mempengaruhi persepsi seseorang karena kita biasanya akan menarik kesimpulan yang sama dengan apa yang pernah dilihat dan didengar.
5.      Harapan
Mempengaruhi persepsi seseorang dalam membuat keputusan, kita akan cenderung menolak gagasan, ajakan, atau tawaran yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
6.      Sasaran
Sasaran dapat mempengaruhi penglihatan yang akhirnhya akan mempengaruhi persepsi.
7.      Situasi
Situasi atau keadaan disekita kita atau disekitar sasaran yang kita lihat akan turut mempengaruhi persepsi. Sasaran atau benda yang sama yang kita lihat dalam situasi yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda pula.

  1. Pengertian Perilaku Konsumen
Sukses atau tidaknya suatu produk dipasaran, sangat dipengaruhi oleh bagaimana produk diterima oleh konsumen. Tentunya produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen yang akan dibeli dan konsumsi oleh konsumen.
Menurut Husein Umar (2003) pengertian perilaku konsumen adalah tindakan yang terlibat dalam mendapatkan mengkomsumsi dan menghabiskan produk dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan. Sedangkan menurut Peter J. Paul dan Olson (2000) mendefinisikan perilaku konsumen adalah interaksi dinamis antara pengaruh dan kognisi, perilaku dan kejadian sekitar kita dimana manusia melakukan aspek pertukaran dalam hidup mereka. Menurut Bilson Simamora (2004) perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan yang mensyaratkan aktivitas individu untuk mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau mengatur barang dan jasa.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2000) mengemukakan perilaku konsumen yang sangat bervariatif, yaitu :
1.      Konsumen mencari resiko (Consumers Seek Information)
Konsumen mencari informasi mengenai produk dan kategori produk melalui komunikasi kata melalui mulut atau yang biasa disebut dengan word of mouth, bail dari teman, keluarga, orang lain, tenaga penjual, dan dari media umum. Mereka menyimpan lebih banyak waktu untuk berpikir tentang pilihan mereka dan mencari lebih banyak informasi tentang alternatif produk ketika mereka menghubungkan tingkat resiko yang tinggi dengan pembelian.
2.      Konsumen adalah setia terhadap merek (Consumers are Brand Loyal)
Konsumen menghindari resiko dengan tetap setia pada satu merek baru atau merek-merek yang belum pernah mereka coba. Penerima resiko yang tinggi mungkin menjadi lebih setia pada merek-merek lama dan mungkin sedikit untuk membeli produk-produk baru yang diperkenalkan.
3.      Konsumen memilih melalui kesan terhadap merek  (Consumers Select by Brand Image)
Konsumen sering berpikir bahwa merek yang terkenal lebih baik dan cukup baik sebagai jaminan secara tidak langsung mengani kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan hasil dan pelayanannya. Usaha promosi pemasar menambah kualitas yang diterima dari produk-produk mereka dapat menolong untuk membangun dan menyokong kesan merek yang baik.
4.      Konsumen mengandalkan kesan toko (Consumers Rely on store Image)
Jika konsumen tidak memiliki informasi lain tentang produk, mereka sering percaya pada penilaian terhadap pembeli barang dagangan dari toko yang mempunyai nama baik dan bergantung ada merek untuk membuat keputusan-keputusan yang hati-hati dalam memilih produk untuk dijual kembali. Kesan toko juga memberi implikasi dari percobaan produk dan jaminan pelayanan, hak pengembalian dan penyesuaian diri dalam kasus ketidakpuasaan.
5.      Konsumen membeli produk yang paling mahal (Consumers buy the most expensive model)
Ketika dalam keragu-raguan, konsumen dapat merasa kalua produk yang paling mahal mungkin yang terbaik dalam hubungannya dengan kualitas, yaitu mereka menyamakan harga dengan kualitas.
6.      Konsumen mencari kepastian (Consumers Seek Reassurance)
Konsumen yang tidak tahu dalam membuat keputusan dalam memilih produk cenderung untuk mencari kepastian melalui garansi uang kembali, pemerintah dan hasil tes laboraturium sendiri.

  1. Persepsi dan Keputusan Pembelian
Menurut Dowling (1986) (dalam Ferrinadewi 2008) persepsi terhadap resiko (perceived risk) adalah persepsi negatif konsumen atas sejumlah akitivitas yang didasarkan pada hasil yang negatif dan memungkinkan bahwa hasil tersebut menjadi nyata. Hal ini merupakan masalah yang senantiasa dihadapi konsumen dan menciptakan suatu kondisi yang tidak pasti misalkan ketika konsumen menentukan pembelian produk baru. Berbagai penelitiann berhasil dilakukan oleh beberapa ahli dan hasilnya drangkum oleh Mowen dan Minor (2001) :
1)      Resiko keuangan, resiko yang hasilnya akan merugikan konsumen secara keuangan.
2)      Resiko kinerja, resiko bahwa produk tidak akan memberika kinerja yang diharapkan.
3)      Resiko fisik, resiko bahwa produk secara fisik akan melukai konsumen.
4)      Resiko psikologis, resiko bahwa produk akan menurunkan citra diri konsumen.
5)      Resiko sosial, resiko bahwa lingkungan sekitar akan mengejek pembelian produk.
6)      Resiko waktu, resiko bahwa sebuah keputusan akan menghabiskan banyak waktu.
7)      Opportunity Loss, resiko bahwa dengan melakukan sebuah tindakan konsumen akan merasa rugi jika melakukan hal lin yang benar-benar ingin ia lakukan.
Dapat disimpulkan bahwa ketika konsumen menerima stimuli :
a)      Harga produk yang sangat mahal
b)      Penilaian orang lain terhadap pilihan konsumen sangat berpengaruh
c)      Ancaman fisik, psikologi, maupun sosial yang besr akibat pemakaian produk
d)     Konsekuensi untuk menghentikan pemakaian produk lain yang disukai
e)      Hasil pemakaian masih belum dapat terbukti maka konsumen akan memiliki persepsi bahwa produk tersebut berisko atau persepsi terhadap resikonya tinggi.

.



























DAFTAR PUSTAKA

Bilson Simamora. 2004. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta:PT
             Gramedia Pustaka Utama

 Ferrinadewi, Erna. 2008. Merek dan Psikologi Konsumen. Jakarta: Graha Ilmu
Luthans, Fred. 1992. Organizational Behavior.Japan : McGraw-Hill Company
Milton, Charles. 1981.R. Human Behavior. Three Levels of Behavior. New York: Prentice-Hall Inc. Englewood Cliffs.
Mowen dan Minor. 2002.Perilaku Konsumen.Penerbit Erlangga : Jakarta..
Peter, J Paul., and Olson., Jerry C,. 2000. Consumer Behavior: Perilaku
Konsumen dan Strategi Pemasaran. Terjemahan Damos Sihombing.
             Jakarta: Jilid 1. Edisi 4, Erlangga.
Schiffman and Lazar Kanuk, 2000, Costumer behaviour, Internasional Edition, Prentice Hall
Schiffman, Leon, & Kanuk, Leslie Lazar. 2008. Consumer Behaviour 7th Edition
(Perilaku Konsumen). Jakarta: PT. Indeks.
Schiffman, Leon G. and Leslie Lazar Kanuk, 1997. Customer Behavior, USA:
Prentice Hall Inc.
Setiadi, Nugroho J. (2003). Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Cetakan Kedua. Jakarta: Prenata Media.
Stephen P. Robbins, Organizational Behavior, Prentice Hall Internasional Inc. 1998. New Jersey, New York.
Umar, Husein. 2003. Metode Riset Perilaku Organisasi. Jakarta : Gramedia.

SELF ESTEEM



a.     TINJAUAN TENTANG HARGA DIRI
Harga diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang mempunyai peran penting dan berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku individu.
Menurut Coopersmith (dalam burn, 1998), mengatakan bahwa : “Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandanga dirinya, terutama sikap menerima, menolak, dan indikasi besarnya keercayaan indvidu terhadap kemampuan, keberartian, kesuksesan, keberhargaan”. Secara singkat harga diri adalah “Personal Jugment” mengenai perasaan  berharga atau berarti yang diekspresikan dalam sikap indivudi terhadap dirinya”.
Stuart dan Sundeen (1991), mengatakan bahwa harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat disimpulkan bahwa harga diri menggambarkan sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai prang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten.


b. Karakteristik harga diri
Menurut Coopersmith (dalam Burn, 1998) harga diri mempunyai beberapa karakteristik, yaitu :
·         Harga diri sebagai sesuatu yang bersifat umum
·         Harga diri bervariasi dalam berbagai pengalaman
·         Evaluasi diri
Individu yang memiliki harga diri tinggi menunjukkan perilaku menerima dirinya apa adanya, percaya diri, puas dengan karakter adan kemampan diri dan individu yang memiliki harga diri rendah, akan menunjukakan penghargaan buruk terhadap dirinya sehingga tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (Struart dan Sundeen, 1991 dan Keliat, 1995).

c.Pembentukan Harga Diri
Harga diri mulai terbentuk setelah anak lahir, ketika anak berhadapan dengan dunia luar dan berinteraksi dengan orang-orang dilingkunagn sekitarnya. Interaksi secara minimal memerlukan pengakuan, penerimaan peran yang saling tergantung pada orang yang bicara dan orang yang diajak bicara. Interaksi menimbulkan pengertian tentang kesadaran diri, identitas, dan pemahaman tentang diri. Hal ini akan membentuk penilai individu terhadap dirinya sebagai orang yang berarti, berharga dan menerima keadaan diri apa adanya sehingga individu mempunyai perasaan harga diri (Burn, 1998). Harga diri mengandung pengertian “siapa dan apa diri saya “. Segala sesuatu yang berhubungan dengan seseorang, selalu medapat penilaian berdasarkan kriteria dan standar tertentu, atribut-atribut yang melekat dalam diri individu akan mendapa masukan dari orang lain dalam proses berinteraksi dimana proses ini dapat menguji. Individu yang memperlihatkan standar dan nilai diri yang terinternalisasi dari masyarakat dan orang lain.
d.  Aspek-Aspek dalam Harga Diri
Coorpersmith (1998) membagi harga diri kedalam empat aspek :
a.       Kekuasaan (power)
Kemampuan untuk mengatur dan mengontrol tingkah laku orang lain. Kemampuan ini ditandai adanya pengakuan dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain.
b.      Keberatian (significance)
Adanya kepedulian, penilaian, dan afeksi yang diterima individu dari orang lain.
c.       Kebajikan (virtue)
Ketattan mengikuti syandar moral dan etika, ditandai oleh ketaatan untuk menjauhi tingkah laku yang tidak diperbolehkan
d.      Kemampuan (competence)
Sukses memenuhi tuntunan prestasi.
e Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Diri
Faktor-faktor yang melatarbelakangi harga diri yaitu :
a.       Pengalaman
Pengalaman merupakan suatu bentuk emosi, perasaan, tindakan, dan kejadian yang pernah dialami individu yang dirasakan bermakna  dan meninggalkan kesan dalam hidup individu (Yusuf, 2000)
b.      Pola asuh
Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya yang meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya dan orang tua memberikan perhatiannya serta tanggapan terhadap anaknya (Shochih, 1998).
c.       Lingkungan
 Lingkungan memberikan dampak besar kepada sesorang melalui hubungan baik antara sesama sehingga menumbuhkan rasam aman dan nyaman dalam penerimaan sosial dan harga dirinya (Yusuf, 2000).
d.      Sosial ekonomi
Sosial ekonomi merupakan suatu yang mendasari perbuatan seseorang untuk memenuhi dorongan sosial yang memerlukan dukungan finansial yang berpengaruh pada kebutuhan hidup sehari-hari  (Ali dan Asrori, 2004).

f.  Hambatan dalam Perkembangan Harga Diri
Menurut Dariuszjy (2004) yang menghambant perkembangan harga diri adalah :
Perasaan takut, yaitu kekhawatiran atau ketakutan (fear). Dalam kehidupan sehari-hari individu harus menempatkan diri di tengah-tengah realita. Ada yang menghadapi fakta-fakta kehidupan dengan penuh kebenaran, akan tetapi ada juga yang menghadapinya denga perasaan tidak berdaya, ini adalah tanggapan negatif terhadap diri, sehingga sekitarnya pun merupakn sesuatu yang negatif bagia dirinya. Tanggapan ini menjadikan individu selalu hidup dalam ketakutan yang akan mempengaruhi seluaruh alam perasaannya sehingga terjadi keguncangan dalam keseimbangan kepribadian, yaitu suatu keadaan emosi yang labil. Maka dalam keadaan tersebut individu tidak berpikir secara wajar, jalan pikirannya palsu, dan segala sesuatu yang diluar diri yang dipersepsikan secara salah. Dengan demikian tindakan-tindakannya menjadi tidak adekurat sebab diarahkan untuk kekurangan dirinya. Keadaan ini lama kelamaan tidak dapat dipertahankan lagi, yang akhirnya akan menimbulkan kecemasan.


 Sumber : 
 resources.unpad.ac.id/unpad-content/.../HARGA%20DIRI.pdf

Minggu, 11 Maret 2012

INSPIRING STORY



Impian Monty
Seorang anak laki-laki bernama Monty. Ayahnya adalah seorang pelatih kuda miskin yang kerjanya melatih kuda-kuda di tiap peternakan. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu peternakan  yang lain. Singkat cerita sang anka sering pindah-pindah sekolah karena mengikuti pekerjaan sang ayah.
Kisah dimulai pada saat Monty mendapat tugas dari guru gambarnya disekolah untuk membuat suatu karangan mengenai apa yang dia inginkan. Akhirnya, pada malam harinya dia berpikir dan mengerjakan karangan itu 7 halaman karangan, yang menakjubkan untuk anak seusia Monty pada saat itu adalah dia menulis ke-7 halaman karangan itu begitu terperinci mengenai peternakan kuda. Karena sang ayah adalah seorang pelatih kuda  sehingga membuat Monty terobsesi sekali mempunyai impian berupa peternakan kuda seluas 200 hektar dan terdapat rumah seluas 4000 m2. Di tengah-tengah peternakan kuda tersebut, semua trak lintasan kuda, arena bertanding, kandang kuda, serta rumahnya digambar jelas dan detail tanpa terlewatkan satu hal kecil pun.
Esok harinya dia menyerahkan hasil karangan tersebut kepada gurunya. Dua hari kemudian semua karangan dikembalikan oleh sang guru kepada murid. Namun, Monty melihat karangan tersebut dengan kecewa karena karangan tersebut mendapatn nilai F serta terdapat tulisan catatan gurunya.
“Mohon bertemu saya setelah kelas.”
Hanya Monty seirang yang mendapat nilai F pada saat itu. Ketika bertemu dengan gurunya Monty langsung protes dengan nila tersebut. Tapi malah sang guru yang balik menyalahkan Monty. Gurunya berkata bahwa semua yang dibuat Monty itu adalah impian yang tidak masuk akal, semua terlalu besar buat anak seukuran engkau, engkau hanyalah seorang anak dari pelatih kuda miskin mana mungkin bisa mewujudkan biaya yang sangat besar sekali, engkau tidak punya latar belakang, bahkan engkau sekarang tidak meyiapkan sedikit pun untuk membangun ini, mana mungkin ini semua terjadi.
“Kamu saya berikan waktu untuk memperbaiki karangan ini, apabila kamu membuat sesuatu yang lebih masuk akal nilaimu akan saya ubah Monty.”
Begitulah kata sang guru terhadap Monty. Akhirnya Monty pulang dan berpikir apakah dia harus merubah semua karangannya.
Dia bertanya kepada sang ayah. Sang Ayah dengan bijak hanya berkata “ Monty, ini semua terserah kepadamu, kerana ini semua menyangkut masa depanmu, engkau sendirilah yang bisa menentuka hidupmu.”
1 minggu kemudian berlalu, akhirnya Monty mengumpulkan karangan tersebut tanpa merubah sedikit pun. Monty kecil hanya menulis, “Guru, engkau boleh menyimpan nilai F tersebut, tapi aku tetap menyimpan impian ini.”
Puluhan tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Sekarang Monty besar bercerita kepada grupnya, saya bercerita seperti ini kepada kalian karena guru saya tersebut duduk di lahan peternakan kuda saya seluas 200 hektar dan masuk kedalam rumah saya seluas 4000 m2. Saya masih menyimpan karangan dulu tersebut, bahkan membingkainya dan tetap bertuliskan huruf F untuk nilainya. Dua musim panas yang lalu bahkan guru yang memberi nilai F tersebut datang kepada Monty bersama 30 orang anak kecil lainnya untuk melihat peternakan kuda Monty.
Pada saat pulang sang guru berkata sesuatu kepada Monty : “Monty, sekarang saya bisa katakan kepada Anda. Pada saat saya menjadi guru Anda, saya telah menjadi orang yang mencuri impian banyak dari anak-anak seperti Anda, tetapi Anda sungguh luar biasa untuk terus mempertahankan impian tersebut.”

Dikutip dari : Buku “30 Hari mencari Jati Diri” oleh Aris Ahmad jaya