Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Februari 2011

TEORI PSIKOANALISA YANG MENGGAMBARKAN KEPRIBADIAN MENURUT SIGMUD FREUD DAN ERIK ERIKSON


Tugas Softskill Kesehatan Mental

TEORI PSIKOANALISA YANG MENGGAMBARKAN KEPRIBADIAN MENURUT SIGMUD FREUD DAN ERIK ERIKSON

A.  Teori Psikoanalisa menurut Sigmund Freud 

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Freud kemudian ia berhasil menggunakan metode baru untuk menyembuhkan penderita tekanan Psikologis yaitu asosiasi bebas dan analisis mimpi. 

Dasar terciptanya metode tersebut adalah dari konsep alam bawah sadar, asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang ditekan oleh diri seseorang namun terus mendorong keluar secara tidak disadari hingga menimbulkan permasalahan. Sedangkan Analisis Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil di-ungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Sigmund Freud, yang mengemukakan gagasan bahwa kesadaran itu hanyalah bagian kecil saja dari kehidupan mental, sedangkan bagian yang terbesarnya adalah justru ketaksadaran atau alam tak sadar. Freud mengibaratkan alam sadar dan tak sadar itu dengan sebuah gunung es yang terapung di mana bagian yang muncul ke permukaan air (alam sadar) jauh lebih kecil daripada bagian yang tenggelam (alam tak sadar).
.
     Teori psikoanalisis struktur kepribadian manusia terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.

     Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas. Maka, satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada dengan mengorbankan dua sistem lainnya. Jadi, kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.

     Jadi, sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah: 

Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya insting. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer.

Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, superego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara insting dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego. Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.

Perkembangan Kepribadian

Perkembangan manusia dalam psikoanalisis merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (A.Supratika, 1984), yaitu:

Fase Oral ( 0-1 tahun)

Anak memperoleh kepuasaan dan kenikmatan yang bersumber pada mulutnya. Sumber kenikmatan yang pokok adalah makanan. Makanan ini meliputi perangsangan terhadap bibir dan rongga mulut, menelan. Objek sosial terdekat adalah ibu, bila anak tidak menyusu pada ibunya, maka ia memperoleh kepuasaan oral dengan memasukkan jari-jari ke dalam mulutnya. Dua macam aktivitas pada waktu makan yaitu menyuapkan makanan dan mengunyah merupakan prototipe daripada bermacam-macam sifat yang ada pada masa-masa depan. Pemindahan objek dari meyuapkan atau memasukkan makanan ke mulut, misalnya kesenangan untuk memperoleh pengetahuan atau hak milik.

Fase Anal (1-3 tahun)

Fase ini pusat kenikmatan terletak di daerah anus, terutama buang air besar. Ketika pembiasan akan kebersihan, anak mendapat pengalam pertama tentang pengaturan impuls-impuls dari luar. Inilah saat yang paling tepat untuk mengajarkan displin pada anak (toilet training). Pengaruh yang diterima anak dalam pembiasan akan kebersihan ini dapat mempunyai pengaruh yang jauh pada sifat-sifat kepribadian :

a.       Apabila ibu bersikap keras dan menekan, anak akan menahan feses-nya. Apabila reaksi yang demikian ini meluas maka anak dapat mempunyai sifat kurang bebas, kurang berani, tertekan, kurang terbuka. 

b.      Apabila ibu bersikap membimbing dengan kasih sayang dan memuji, maka anak mungkin akan memperoleh perngertian bahwa memproduksi feses adalah aktivitas yang penting. Pengertian inilah yang mungkin menjadia dasar kreativitas dan produktivitas.
  
Fase Falis (3-5 tahun)

Fase ini yang menjadi pusat adalah perkembangan seksual. Anak memindahkan pusat kepuasaan pada daerah kelamin, rasa agresi serta fungsi alat-alat kelamin. Anak mulai tertarik pada perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Pada masa ini adanya Oedipus Kompleks. Secara singkat Oedipus Kompleks itu terdiri atas cathexis seksual terhadap orangtua yang berlainan jenis kelaminnya serta cathexis permusuhan terhadap orangtua yang sama jenis kelaminnya. 

-          Perkembangan kompleks oedipus kompleks pada anak laki-laki. Dororngan incest dengan ibu serta sikap menentang terhadap ayah. Ada ketakutan dikastrasi menyebabkan ditekannya keinginan seksual terhadap ibu dan rasa permusuhan terhadap ayah. Hal ini anak laki-laki mengidentifikasikan diri terhadap ayah mendapatkan dua macam manfaat, yaitu memperoleh kepuasaan dorongan seksual terhadap ibu dan rasa erotisnya terhadap ibu yang berbahaya ditutupi oleh sikap menurut dan sayang terhadap ibu.                         
                   
-          Perkembangan oedipus kompleks pada anak perempuan, anak perempuan mengganti objek cintanya yaitu ibu diganti dengan ayah. Reaksi terhadap pengalaman traumatisnya yaitu anak laki-laki memiliki alat kelamin yang sempurna sedang ia tidak, keadaannya seperti dikastrasi: bahwa ia beranggapan bahwa ibulah yag bertanggung jawab terhadap keadaan yang demikian itu yang melemahkan cathexinya terhadap ibu. Dan ia menstransfer cintanya kepada ayah, karean ayah memiliki organ yang ia inginkan.

Fase Laten (5-12 tahun)

Anak mengalami perkembangan pesat pada aspek motorik dan kognitif. Anak laki-laki lebih banyak bergaul dengan teman sejenis, demikian dengan anak perempuan. Anak mencari figur ideal diantara orang dewasa berjenis kelamin sama dengannya.
  
Fase Genital ( 12 tahun ke atas)

Alat-alat reproduksi sudah mulai masak, pusat kepuasaanya berada pada daerah kelamin. Energi psikis diarahkan untuk hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawanan jenis. Pengalaman masa ni akan mempengaruhi pada remaja yang sedang menapak ke dunia dewasa, dunia karir, dan dunia rumah tangga.


B.  Teori Psikoanalisa menurut Erik Erikson
    
          Erikson adalah ego psikolog-Freudian. Ini berarti bahwa ia menerima ide-ide Freud sebagai dasarnya benar, termasuk ide-ide lebih diperdebatkan seperti kompleks oedipal, dan menerima serta ide-ide tentang ego yang ditambahkan oleh loyalis Freudian lain seperti Heinz Hartmann dan, dari, tentu saja, Anna Freud . Namun, Erikson adalah masyarakat yang jauh lebih dan budaya berorientasi daripada kebanyakan Freudians, seperti yang Anda harapkan dari seseorang dengan kepentingan antropologi, dan ia sering mendorong naluri dan alam bawah sadar praktis keluar dari gambar. Mungkin karena ini, Erikson sangat populer di kalangan Freudians dan non-Freudians sama.
Prinsip epigenetik 

     Ia paling terkenal karena karyanya dalam memperbaiki dan mengembangkan teori Freud tahap. Pembangunan, katanya, fungsi oleh prinsip epigenetik. Prinsip ini mengatakan bahwa kita berkembang melalui yang telah ditetapkan terungkapnya kepribadian kita dalam delapan tahap. kemajuan kami melalui setiap tahap adalah sebagian ditentukan oleh keberhasilan kami, atau kurangnya keberhasilan, dalam semua tahapan sebelumnya. Sedikit seperti terbukanya kuncup bunga mawar, setiap kelopak membuka pada waktu tertentu, dalam urutan tertentu, yang alam, melalui genetika tersebut, telah ditentukan. Jika kita ikut campur dalam urutan alam pembangunan dengan menarik ke depan kelopak prematur atau rusak, kita merusak perkembangan seluruh bunga. 

     Setiap tahap melibatkan tugas-tugas perkembangan tertentu yang psikososial di alam. Meskipun ia mengikuti tradisi Freudian dengan menyebut mereka krisis, mereka lebih ditarik keluar dan kurang spesifik dibandingkan istilah yang menyiratkan. Anak di sekolah tata bahasa, misalnya, harus belajar menjadi rajin selama masa hidupnya, dan kerajinan yang dipelajari melalui interaksi sosial yang kompleks dari sekolah dan keluarga. 

   Berbagai tugas yang disebut dengan dua istilah. Tugas bayi, misalnya, disebut "kepercayaan-ketidakpercayaan." Pada awalnya, mungkin tampak jelas bahwa bayi harus belajar kepercayaan dan tidak ketidakpercayaan. Namun Erikson menjelaskan bahwa ada hal keseimbangan kita harus belajar: Tentu saja, kita perlu belajar kebanyakan kepercayaan, tetapi kita juga perlu belajar ketidakpercayaan sedikit, agar tidak tumbuh menjadi orang-orang bodoh mudah tertipu.

 Setiap tahap memiliki waktu yang tertentu pula. Tidak ada gunanya berusaha buru-buru anak-anak menjadi dewasa, sebagaimana yang umum di antara orang-orang yang terobsesi dengan kesuksesan. Tidak juga mungkin untuk memperlambat kecepatan atau untuk mencoba melindungi anak-anak kita dari tuntutan hidup. Ada waktu untuk setiap tugas.
Delapan tahapan perkembangan psikososial:

a.       Basic Trust vs Basic Mistrust (0-1 tahun)

Kebutuhan akan rasa aman dan ketidakberdayaan. Ibu memiliki peranan secara kualitatif sangat menentukan perkembangan kepribadian seorang anaknya. Bila rasa aman terpenuhi, maka anak akan mengembangkan dasar-dasar kepercayaan pada lingkungan. Sebaliknya bila anak selalu terganggu, tidak pernah merasakan kasih sayang dan rasa aman, anak akan mengembangkan perasaan tidak percaya pada lingkungan.

b.      Autonomy vs Shame & Doubt (18 bulan sampai 3-4 tahun)

Organ-organ tubuh anak sudah lebih masak dan terkoordinasi. Anak dapat melakukan aktivitas secara lebih meluas dan bervariasi. Pengakuan, pujian, perhatian serta dorongan akan menimbulkan perasaan percaya diri, memperkuat egonya. Bila sebaliknya yang terjadi, maka akan berkembang perasaan ragu-ragu. Peranan orangtua sangat penting dalam mengembangkan tahap ini.

c.       Initiative vs Guilt ( 3 sampai 5 atau 6 tahun)

Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan ia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak terbatas adakalanya ia mengalami kegagalan. Pada tahapan ini anak akan mengembangkan sikap insiatif yaitu perasaan bebas untuk melakukan segala sesuatu sendiri. Orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Sebaliknya apabila tujuan anak mengalami hambatan maka akan berdampak ia merasa bersalah atau merasa berdosa dan akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri.

d.      Industry vs Inferiority (6 sampai 12 tahun )

Anak sudah mulai mampu melakukan pemikiran logis dan anak sudah bersekolah. Tuntutan dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar sudah semakin luas. Bila kemampuan untuk menghadapi tuntutan lingkuangaan dihargai misalnya sekolah, maka akan berkembang rasa bergairah untuk terus lebih produktif. Sebaliknya akan timbul anak akan merasa tidak mampu (inferiority), dan akan mengembangkan sikap rendah diri.

e.       Indentity vs Identity Confusion ( 12 – 20 tahun)

Masa persiapan menuju ke arah kedewasaan didukung pula dengan kemampuan kecakapan yang dimilikinya dan ia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas dirinya . identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang bersosialisasi ke tengah masyarakat. Apabila tahapan-tahapan sebelumnya terhambat atau berlangsung tidak baik maka anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosial ia akan mengalami kekacauan identitas.

f.       Intimacy vs Isolation ( 20-30 tahun )

Pada masa ini sudah mulai mencari-cari pasangan hidup. Ia sudah muulai selektif dalam membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Seseorang yang berhasil berhubungan baik dengan orang lain yang sepaham dan membagi kasih sayang juag perhatian akan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Sebaliknya bla ia tidak bisa menjalin hubungan dengan orang lain dengan baik maka akan merasa terasing dan mengembangkan sikap menyendiri.
Generativity vs Stagnasion ( 30 sampai 60 tahun )
Pada tahapan ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Krisis yang dihadapi individu pada masa ini adalah adanya tuntutan untu membantu orang lain di luar keluarga, pengabdian masyarakat. Pengalamannya di masa lalu dapat menyebabkan individu mampu berbuat banyak bagi kemanusiaan, khususnya generasi yang akan datang. Sebaliknya bila ia hanya menyimpan pengalaman-pengalamannya dan mengembangkan sikap tidak perduli maka ia tidak akan dapat berperan baik dalam lingkuangan kehidupannya.

h.      Integrity vs Despair ( 60-65 ke atas )

Tahap ini tahapan sulit dilewati menurut pandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari liingkuangan kehidupannya, karena pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguan. Integritas memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup juga menerima akhir dari hidup itu sendiri, sebaliknya bila ia didalam dirinya tidak terdapat integritas maka akan mengembangkan sikap cemas.

                http://webspace.ship.edu/cgboer/erikson.html

Jumat, 18 Februari 2011

SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL


Tugas Softskill Kesehatan Mental

SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

'Kesehatan mental' ungkapan ini diciptakan oleh W. Swetster di tahun 1843, dan penuh dengan konten yang sebenarnya melalui "pribadi" pengalaman berkumpul oleh ahli asuransi Beers Amerika. Gerakan mental hygienic dibawa untuk hidup dan dihukum konteks yang luar biasa oleh energi yang luar biasa, mengorganisir bakat dan komitmen. Tujuannya adalah untuk memastikan perawatan yang lebih manusiawi dari sakit mental, cara bagaimana tujuannya ini dilakukan dalam konteks yang lebih luas melampaui domain perawatan kesehatan tidak bisa disebut hanya kejiwaan.

Masyarakat Connecticut untuk Kesehatan Mental didirikan pada 6 Mei 1908 di Universitas Yale, dengan langkah ini, kemungkinan kerjasama interdisiplin antara tempat ibadah, sekolah, universitas, rumah sakit dan lembaga sosial dan isolasi institusional memusatkan perhatian ke daerah yang satu tertinggal. Setelah lulus dari Undang-Undang Kesehatan Mental pada tahun 1946 (menetapkan persyaratan hukum federal koordinasi dan kerjasama antara semua humaniora), kesehatan mental menjadi tanggung jawab pemerintah federal.
Pada tahun 1948, semua ini dilengkapi oleh WHO dengan tujuan kesejahteraan sosial, kesehatan sebagai sebuah negara yang dirumuskan sejalan dengan pendekatan dalam Surat pernyataan Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan yang diterbitkan pada tahun 1948.

Ada sejarah lainnya mengenai kesehatan mental antara lain :

Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.

Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut.
Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
  1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
  2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
  3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
  4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.




Kamis, 10 Februari 2011

KONSEP SEHAT


Tugas Softskill Kesehatan Mental
                                               
KONSEP SEHAT

Pengertian Sehat
Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Sehat sesuatu yang berguna untuk melakukan aktivitas.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 1948, kesehatan didefinisikan sebagai “keadaan lengkap fisik, mental, dan kesejahteraan sosial dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”
Pada 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa kesehatan adalah “sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan dari kehidupan.

Tujuan Kesehatan
Salah satu tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangssa, yang berarti memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman hidup. Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat.

Tujuan dan Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Tujuan dan ruang lingkup kesehatan lingkungan dapat dibagi menjadi dua, secara umum dan secara khusus. Tujuan dan ruang lingkup secara umum, antara lain:
  1. Melakukan koreksi atau perbaikan terhadap segala bahaya dan ancaman pada kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
  2. Melakukan usaha pencegahan dengan cara mengatur sumber-sumber lingkungan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
  3. Melakukan kerja sama dan menerapkan program terpadu di antara masyarakat dan institusi pemerintah serta lembaga nonpemerintah dalam menghadapi bencana alam atau wabah penyakit menular.
Adapun tujuan dan ruang lingkup secara khusus meliputi usaha-usaha perbaikan atau pengendalian terhadap lingkungan hidup manusia, yang di antaranya berupa:.[8]
  1. Menyediakan air bersih yang cukup dan memenuhi persyaratan kesehatan.
  2. Makanan dan minuman yang diproduksi dalam skala besar dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat.
  3. Pencemaran udara akibat sisa pembakaran BBM, batubara, kebakaran hutan, dan gas beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan makhluk hidup lain dan menjadi penyebab terjadinya perubahan ekosistem.
  4. Limbah cair dan padat yang berasal dari rumah tangga, pertanian, peternakan, industri, rumah sakit, dan lain-lain.
  5. Kontrol terhadap arthropoda dan rodent yang menjadi vektor penyakit dan cara memutuskan rantai penularan penyakitnya.
  6. Perumahan dan bangunan yang layak huni dan memenuhi syarat kesehatan.
  7. Kebisingan, radiasi, dan kesehatan kerja.
  8. Survei sanitasi untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program kesehatan lingkungan
Tujuan Pembangunan Kesehatan
Untuk jangka panjang pembangunan bidang kesehatan diarahkan untuk tercapainya tujuan utama sebagai berikut:
  1. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan.
  2. Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan.
  3. Peningkatan status gizi masyarakat.
  4. Pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).
  5. Pengembangan keluarga sehat sejahtera, dengan makin diterimanya norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Faktor- faktor yang mempengaruhi kesehatan :
  1. Environment atau lingkungan.
  2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.
  3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya.
  4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat.




Rabu, 10 November 2010

Dampak Internet secara Psikologi


Pada zaman globalisasi ini tentu saja kita sudah mengetahui tentang “internet”, hampir setiap orang pernah mengakses internet, dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa memakai internet, pada saat ini orang sangat membutuhkan yang namanya “internet” karena hampir semua pengetahuan di dunia dapat diketahui melalui internet, banyak manfaat yang dapat diambil dari internet, dengan internet kita dapat berkomunikasi dengan orang yang berada di tempat yang jauh atau dinegara lain.
Tetapi saat ini banyak orang yang menyalahgunakan internet, dan akan berdampak besar bagi orang-orang yang melihatnya. Internet juga dapat mengakses yang berkaitan dengan pornografi, maka banyak yang mengakses internet tentang hal itu, dan sulit dihindari karena banykanya situs-situs semacam itu tersedia di internet. Ini dapat berdampak buruk bagi anak-anak juga remaja yang mudah terpengaruh oleh hal semacam itu, juga dapat mengakibatkan tindak kriminal dan perilaku menyimpang, juga dapat membuat seseorang untuk selalu ingin melihat situs-situs semacam itu.
            Internet juga dapat mengekspor diri , bermanfaat bila dapat meningkatkan kehidupan seseorang, tetapi dapat berdampak buruk bila membuat rumit kehidupan seseorang. Pengaruh buruk dapat terjadi jika internet digunakan untuk mengisolasi diri, dan lama-kelamaan seseorang dapat menutup diri pada komunikasi sosial karena memgungkapkan masalah-masalah pribadinya ke internet.
            Internet juga dapat mengeksporisasi seseorang dalam duni maya, seseorang dapat membuat dirinya yang berbeda dalam dunia maya sesuai dengan keinginannya, biasanya ia lebih menyukai karakternya dalam dunia maya daripada karakternya dalam kehidupan nyata.

Senin, 18 Oktober 2010

Indera Penciuman


Indera penciuman tergolong ke dalam sistem penginderaan kimia kita (chemosensation). Proses yang kompleks dari mencium dan mengecap dimulai ketika molekul-molekul dilepaskan oleh substansi di sekitar kita yang menstimulasi sel syaraf khusus di hidung, mulut, atau tenggorokan. Sel-sel ini menyalurkan pesan ke otak, dimana bau dan rasa khusus diidentifikasi. Sel-sel olfactory (syaraf penciuman) distimulasi oleh bau di sekitar kita. Sel-sel syaraf ini ditemukan di sebuah tambalan kecil dari jaringan terletak di atas dalam hidung, dan mereka terhubung secara langsung ke otak. Penciuman (olfaction) terjadi karena adanya molekul-molekul yang menguap dan masuk ke saluran hidung dan mengenai olfactory membrane. Manusia memiliki kira-kira 10000 sel reseptor berbentuk rambut. Bila molekul udara masuk, maka sel-sel ini akan mengirimkan impuls saraf . Hidung manusia di bagi menjadi dua bagian rongga yang sama besar yang di sebut
dengan Nostri . Dinding pemisah di sebut dengan septum, septum terbuat dari tulang
yang sangat tipis. Rongga hidung di lapisi dengan rambut dan membran yang mensekresi lendir lengket.Rongga hidung (nasal cavity) berfungsi untuk mengalirkan udara dari luar ke tenggorokan menuju paru paru. Rongga hidung ini di hubungkan dengan bagian belakang tenggorokan. Rongga hidung di pisahkan oleh langit-langit mulut kita yang di sebut dengan Palate. Mucous membrane berfungsi mengahangatkan udara dan melembabkannya. Bagian ini membuat mucus (lendir atau ingus) yang berguna untuk menangkap debu, bakteri, dan partikel-partikel kecil lainnya yang dapat merusak paru-paru.
Rongga hidung                                            
Rongga hidung dimulai dari Vestibulum, yakni pada bagian anterior ke bagian posterior yang berbatasan dengan nasofaring. Rongga hidung terbagi atas 2 bagian, yakni secara longitudinal oleh septum hidung dan secara transversal oleh konka superior, medialis, dan inferior.Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru. Jalan
napas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirupkan ke dalam paru-paru. Hidung bertanggung jawab terhadap olfaktory atau penghidu karena reseptor olfaksi terletak dalam mukosa hidung. Fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia.
Terdapat 3 fungsi Rongga Hidung:                                                                                              
Dalam hal pernafasan, udara yang diinspirasi melalui rongga hidung akan menjalani tiga proses yaitu penyaringan (filtrasi), penghangatan, dan pelembaban. Penyaringan dilakukan oleh membran mukosa pada
a.rongga hidung yang sangat kaya akan pembuluh darah dan glandula serosa yang mensekresikan mukus cair untuk membersihkan udara sebelum masuk ke Oropharynx. Penghangatan dilakukan oleh jaringan pembuluh darah yang sangat kaya pada ephitel nasal dan menutupi area yang sangat luas dari rongga hidung. Dan pelembaban dilakukan oleh concha, yaitu suatu area penonjolan tulang yang dilapisi oleh mukosa.
b. Epithellium olfactory pada bagian meial rongga hidung memiliki fungsi dalam penerimaan sensasi bau.
c. Rongga hidung juga berhubungan dengan pembentukkan suara-suara fenotik dimana ia berfungsi sebagai ruang resonans.
Daftar pustaka 
Dunia Kimia. 2009. Bagaimana Indera Penciuman Dapat Mengenali Sensasi Wangi. http://duniakimia.com

Psikologi Sosial

Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Focus utama Psikologi Sosial adalah pada pemahaman mengenai bagaimana dan mengapa individu berperilaku, berpikir, dan memiliki perasaan tertentu dalam konteks situasi social. Yang dimaksud dengan situasi social adalah kehadiran orang lain secara nyata maupun secara imajinasi.
Psikologi sosial merupakan perkembangan ilmu pengetahuan yang baru dan merupakan cabang dari ilmu pengetahuan psikologi pada umumnya. Ilmu tersebut menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial.

a.       Hubert Bonner
Psikologi Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
b.       A.M . chorus
Psikologi Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
c.       Michener & Delamater : 1999
Psikologi Sosial adalah studi alami tentang sebab-sebab dari prilaku sosial manusia.
d.       Gordon Allport : 1985ü
Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain, baik secara nyata/aktual, dalam bayangan/imajinasi dan dalam kehadiran yang tidak langsung (implied).
e.        Davis O Sears
Psikologi Sosial merupakan usaha sistematis untuk memahami prilaku sosial, yakni :
            Bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial
Bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita
Bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial
f.       Shaw & Costanzo : 197O
Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang sosial.
g.      Berhm & Kassin
Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari cara individu berpikir, merasa, dan bertingkah laku dalam setting sosial.
h.       Sherifü & sherif : 1986
Social psychology is scientific study of the experience and behavior individuals in relation to social stimulus situasions.
i.        Krech, Crutchfield, & Ballachey : 1962
Social Psychology can be defined as the science of interpersonal behavior events.
j.        Watson : 1966
Social Psychology is the scientific study of human interaction.
k.       Deweyü & Humber : 1966
Social Psychology is the study of the individual human being as be interacts, largely symbolically, with his environment.
l.         Jonesü & Gerard : 1967
Social Psychology is a subdiscipline of Psychology that especially involves this scientific study of the behavior of individuals as a function of social stimuli.
m.    Mc. Davidü & Harari : 1968
Social Psychology is the scientific study of the experience and behavior of individuals in relation to other individuals, groups and culture
  1. Sherif & Muzler, 1958: Psikologi Sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus social.
  2. Dewey & Huber, 1966: Psikologi social adalah study tentang manusia individual ketika ia berinteraksi, biasanya secara simbolik dengan lingkungannya.
  3. Shaw & Constanzo, 1970: Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagai fungsi rangsang-rangsang social.
  4. Smith & Mackie, 2000: Social psychology is the scientific study of social and cognitive processes on the way individuals perceive, influence and relate to others.
  5. Baron & Byrne, 2004: Psikologi Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami asal-usul dan penyebab dari tingkah laku dan pemikiran individu pada konteks situasi social.

Dari berbagai pendapat tokoh-tokoh tentang pengertian psikologi sosial dapat disimpulkan bahwa psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial.
Sedangkan latar belakang timbulnya psikologi sosial, banyak beberapa tokoh berpendapat, semisal, Gabriel Tarde mengatakan, pokok-pokok teori psikologi sosial berpangkal pada proses imitasi sebagai dasar dari pada interaksi sosial antar manusia. Bedah lagi dengan Gustave Le Bon, bahwa pada manusia terdapat dua macam jiwa yaitu jiwa individu dan jiwa massa yang masing-masing berlaianan sifatnya.
Jiwa massa lebih bersifat primitif (buas, irasional, dan penuh sentimen) dari pada sifat-sifat jiwa individu. Berlaianan dengan Le Bon, Sigmund Freud berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya sudah terdapat dan tercakup oleh jiwa individu, hanya saja sering tidak disadari oleh manusia itu sendiri karena memang dalam keadaan terpendam. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang berpendapat dalam buku yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan psikologi sosial.
Pada tahun 1950 dan 1960 psikologi sosial tumbuh secara aktif dan program gelar dalam psikologi dimulai disebagaian besar universitas.
Dasar mempelajari psikologi sosial berdasarkan potensi –potensi manusia, dimana potensi ini mengalami proses perkembangan setelah individu itu hidup dalam lingkungan masyarakat. Potensi-potensi tersebut antara lain:

1. kemampuan menggunakan bahasa
2. adanya sikap etik
3. hidup dalam 3 dimensi (dulu, sekarang, akan datang )

Ketiga pokok di atas biasa disebut sebagai syarat human minimum. Dengan demikian yang tidak memenuhi human minimum dengan sendirinya sukar digolongkan sebagai masyarakat. Obyek manusia mempelajari psikologi sosial adalah kegiatan-kegiatan sosial / gejala-gejala sosial. Sedangkan metode sosial antara lain :


a. Metode Eksperimen,
b. Metode survey,
c. Metode Observasi,
d. Metode diagnostik – psychis,
e. Metode Sosiometri.

Sebagai ilmu yang obyeknya manusia, maka terdapat saling hubungan antara psikologi sosial dengan ilmu-ilmu lain yang obyeknya juga manusia seperti misalnya : Ilmu hukum, Ekonomi, sejarah, dan yang paling erat hubungannya adalah sosiologi. Letak psikologi sosial dalam sistematik psikologi termasuk dalam psikologi yang bersifat empirik dan tergolong psikologi khusus yaitu psikologi yang menyelidiki dan yang mempelajari segi-segi kekhususan dari hal-hal yang bersifat umum dipelajari dalam lapangan psikologi khusus. Sedangkan kedudukan psiklogi sosial didalam lapangan psikologi termasuk dalam psikologi teoritis, sedangkan psikologi sosial tergolong dalam psikologi teoritis.

Mengenai psikologi sosial terdapat pertentangan faham diantara beberapa tokoh ilmu jiwa sosial yang dalam garis besarnya dapat dikelompokan menjadi dua aliran yakni, aliran subyektifisme yang menyatakan bahwa individulah yang membentuk masyrakat dalam segala tingkah lakunya. Dan aliran kedua adalah, obyektivisme yang merupkan kebalikan dari aliran subyektivisme, bahwa masyarakatlah yang menentukan individu.
Selain dua aliran di atas, masih ada aliran yang membicarakan masalah hubungan antara individu dengan masyarakat diantaranya adalah aliran historis dan cultural personality.
2.1  Hubungan Psikologi Sosial dengan Ilmu Lain

Serge moscovici seorang psikolog sosial perancis menyatakan bahwa psikologi sosial adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Sebab psikologi sosial mengakui pentingnya memandang individu dalam suatu system sosial yang lebih luas dan karena itu menarik kedalamnya sosiologi, ilmu politik, antropologi, dan ekonomi. Psikologi sosial mengakui aktifitas manusia yang rentangnya luas dan pengaruh budaya serta perilaku manusia dimasa lampau. Dalam mengambil fokus ini psikologi sosial beririsan dengan filsafat, sejarah, seni dan musik. Selain itu psikologi sosial memiliki perspektif luas dengan berusaha memahami relevansi dari proses internal dari aktivitas manusia terhadap perilaku sosial. Dalam hal ini psikologi sosial misalnya mungkin mempertanyakan bagaimana keadaan orang setelah menyaksikan suatu kejadian menakutkan akan mempengaruhi arousal secara fisiologis, seperti tekanan darah dan serangan jantung. Karena perspektif ini, maka dibahas tentang persepsi, kognisi dan respon fisiologis.
Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa cirikhas dari psikologi sosial adalah memfokuskan pada individu daripada kelompok atau unit.sementara ahli ilmu sosial yang lain mempergunakan analisis kemasyarakatan yakni mempergunakan faktor-faktor secara luas untuk menjelaskan perilaku sosial. Misalnya sosiologi lebih tertarik pada struktur dan fungsi kelompok. Kelompok itu dapat kecil (keluarga), atau moderat (perkumpulan mahasiswa, klub sepakbola), atau luas (suatu masyarakat).
Sementara bidang studi lain dari psikologi yang tertarik pada keunikan dari perilaku individu adalah psikologi kerpibadian. Pendekatan psikologi kepribadian adalah membandingkan masing-masing orang. Sementara pendekatan psikologi sosial adalah mengidentifikasikan respon (cara bereaksi) dari sebagian besar atau kebanyakan orang dalam suatu situasi dan meneliti bagaimana situasi itu mempengaruhi respon tersebut.
Marilah kita bandingkan ketiga pendekatan tersebut dengan menggunakan contoh yang spesifik untuk menganalisis terjadinya tindak kekerasan. Pendekatan kemasyarakatan cenderung menunjukkan adanya kaitan antara tingkat kejahatan yang tinggi dengan kemiskinan, urbanisasi yang cepat, dan industrialisasi dalam suatu masyarakat. Untuk membuktikan kesimpulan ini, mereka menunjukkan beberapa fakta tertentu : orang yang miskin lebih sering melakukan kejahatan; kejahatan lebih banyak timbul di daerah kumuh ketimbang di lingkungan elit; kriminalitas meningkat pada masa resesi ekonomi dan menurun di saat kondisi ekonomi membaik.
Sementara pendekatan individual dalam bidang psikologi yang lain (psikologi kepribadian, perkembangan dan klinis) cenderung menjelaskan kriminalitas berdasarkan karakteristik dan pengalaman criminal individu yang unik. Pendekatan ini akan mempelajari perbedaan individual yang menyebabkan sebagian orang melakukan tindak criminal, yang tidak dilakukan oleh orang lain dengan latar belakang yang sama, untuk itu, biasanya mereka memusatkan pada latar belakang individu, misalnya bagaimana perkembangan orang itu? Disiplin apakah yang diterapkan orang tuanya? Mungkin orang tua yang kasar cenderung menumbuhkan anak belajar berperilaku kasar?. Penelitian dapat dilakukan dengan membandingkan latar belakang keluarga anak yang nakal dengan yang tidak nakal. Jadi analisis semacam ini memusatkan pada bagaimana dalam situasi yang sama orang dapat melakukan perilaku yang berbeda karena pengalaman masa lalu yang unik.
Sebaliknya psikologi sosial lebih berpusat pada usaha memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi sosial yang terjadi. Psikologi sosial mempelajari perasaan subyektif yang biasanya muncul dalam situasi sosial tertentu, dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilaku. Situasi interpersonal apa yang menimbulkan perasaan marah, dan meningkatkan atau menurunkan kemungkinan munculnya perilaku agresi? Sebagai contoh, salah satu prinsip dasar psikologi sosial adalah bahwa situasi frustasi akan membuat orang marah, yang memperbesar kemungkinan timbulnya mereka melakukan perilaku agresi. Akibat situasi yang menimbulkan frustasi ini merupakan penjelasan alternative mengenai sebab timbulnya kejahatan. Hubungan itu tidak hanya menjelaskan mengapa perilaku agresif terjadi dalam situasi tertentu, tetapi juga menjelaskan mengapa faktor ekonomi dan kemasyarakatan menimbulkan kejahatan. Misalnya, orang miskin berduyun-duyun dating ke kota akan mengalami frustasi; mereka ternyata sulit mencari pekerjaan, mereka tidka dapat membeli apa yang mereka inginkan, tidak dapat hidup layak seperti yang mereka bayangkan. Dan frustasi ini merupakan sebab utama munculnya sebagian besar perilaku criminal. Psikologi sosial biasanya juga menyangkut perasaan-perasaan subyektif yang ditimbulkan situasi interpersonal, yang kemudian mempengaruhi perilaku individu. Dalam contoh ini situasi frustasi menimbulkan kemarahan, yang kemudian menyebabkan timbulnya perilaku agresif.

2.2  Metode Psikologi Sosial
  1. Observasi Sistematis, yaitu  mengamati secara hati-hati perilaku yang ada dilengkapi dengan pengukuran yang akurat dan teliti. Ada 2 teknik dalam observasi sitematis, yaitu:
a) observasi alamiah (naturalistic observation), yaitu observasi terhadap perilaku dalam situasi alami (Linden, 2000). Dalam teknik ini, peneliti tidak boleh mempengaruhi orang yang diteliti, sehingga peneliti berupaya agar orang-orang yang diamatinya tidak memperhatikan keberadaan peneliti. Contoh: penelitian Brandon mengenai pengaruh suhu udara terhadap perilaku membunyikan klakson. Brandoon mengamatinya dengan bersembunyi di balik semak-semak dan menghitung bunyi klakson beberapa detik setelah lampu hijau menyala.
b) Metode survey, yaitu metode penelitian di mana peneliti meminta sejumlah besar partisipan untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tentang sikap atau perilaku mereka. Metode ini digunakan untuk mengukur sikap mengenai isu-isu social.Syarat survey: orang-orang yang berpartisipasi harus mewakili populasi yang lebih besar; pertanyaan-pertanyaan disusun ke dalam kalimat akan berpengaruh pada hasil yang didapat. Metode ini berguna untuk mempelajari aspek-aspek dari perilaku social, namun hasil yang diperoleh baru bisa akurat bila isu mengenai sampling dan perumusan pertanyaan diperhatikan secara hati-hati.
  1. Metode Korelasi, yaitu peneliti mencoba untuk menentukan apakah, dan seberapa jauh, variable-variabel yang berbeda berhubungan satu sama lain dengan mengadakan observasi yang hati-hati terhadap masing-masing variable, kemudian melaksanakan uji statistic yang tepat untuk menentukan apakah dan seberapa jauh variable-variabel tersebut berkorelasi. Metode ini dapat digunakan dalam berbagai situasi natural dan seringkali sangat efisien (sejumlah informasi dapat diperoleh dalam waktu yang relative singkat). Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan hubungan sebab-akibat yang merupakan kelemahan metode ini.
  2. Metode eksperimen, yaitu sebuah metode di mana satu factor atau lebih (variable bebas) diubah secara sistematis untuk menentukan apakah suatu variable mempengaruhi satu atau lebih factor yang lain (variable terikat). Contoh: penelitian mengenai pengaruh jabat tangan terhadap persepsi orang lain mengenai orang yang diajak berjabat tangan tersebut.
Daftar Pustaka 
Avianti, annisa.2010.Psikologi Sosial. http://annisaavianti.wordpress.com/2010 .

Bintang.2010.Definisi Psikologi Sosial Menurut Para Ahli. http://galaxy-semesta.blogspot.com/2010. 


  Mahardika, sutrisno.2007. Hubungan Psikologi Sosial dengan Ilmu Lainnya. http://trescent.wordpress.com/2007 .