Minggu, 20 Mei 2012

Dissociative Fugue


Fugue berasal dari bahasa Latin fugere yang berarti “melarikan diri”. Kata fugitive (pelarian/buronan) memiliki kata yang sama. Fugue sama seperti amnesia “dalam pelarian”. Adanya memori yang menghilang disertai pula dengan gejala meninggalkan rumah dan membentuk identitas baru (Davison & Neale, 2001). Seseorang yang mengalami hal ini dapat terkesan “normal” dan tidak menunjukkan tanda-tanda lain dari gangguan mental (Maldonado dkk, 1998). Orang tersebut mungkin tidak memikirkan masa lalu atau mungkin melaporkan masa lalu yang penuh dengan memori yang salah tanpa menyadari bahwa memori itu salah. Bila orang dengan amnesia tampak berjalan-jalan tanpa tujuan, orang dalam tahap fugue bertindak lebih bertujuan. Pola yang jarang terjadi adalah bila tahap fugue berlangsung selama beberapa bulan atau tahun serta mencakup perjalanan ke tempat yang jauh dan asumsi akan identitas yang baru. Individu-individu dapat mengasumsikan sebuah identitas yang lebih spontan dan lebih mudah bersosialisasi daripada dirinya yang dulu. Mereka dapat membangun keluarga baru dan bisnis yang sukses. Tahap fugue tidak dianggap sebagai psikotik karena orang yang memiliki gangguan ini dapat berpikir dan berperilaku cukup normal di kehidupan yang baru.
Fugue jarang terjadi dan diyakini hanya mempengaruhi 2 dari 1000 orang dalam populasi umum (APA, 2000). Gangguan ini paling banyak muncul dalam masa perang (Loewenstein, 1991) atau terbangkitkan karena adanya bencana maupun peristiwa lain yang sangat menekan. Hal ini yang utama disini adalah disosiasi dalam tahap fugue melindungi seseorang dari ingatan traumatis atau sumber pengalaman maupun konflik lain yang menyakitkan secara emosi (Maldonado dkk, 1998).
Penyebab dari gangguan ini adalah masalah psikologis. Faktor yang mendorong munculnya gangguan ini adalah keinginan yang sangat kuat untuk lari atau melepaskan diri dari pengalamn yang secara emosional menyakitkan individu. Individu memngalami gangguan mood atau gangguan kepribadian tertentu (misalnya bordeline, histrionik, dan skizoid) memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami fugue disosiatif. Selain itu adanya riwayat kecelakaan kepala (head trauma) juga memungkinkan individu mengalami fugue.
Penanganan fugue relatif lebih mudah karena gangguan ini biasanya secara jelas berkaitan dengan tekanan kehidupan yang dialami individu pada saat tersebut. Agar episode ini tidak terulang lagi terapi biasanya diarahkan pada penyelesaian masalah yang saat itu sedang dialami ataupun meningkatkan kemampuan individu dalam melakukan berbagai mekanisme coping.  

Sumber :
Greene, B., Nevid, JS., Rathus. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta : Penerbit Erlangga
Fausiah, F., Widury, J. 2008. Psikologi Abnormal. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar