Minggu, 20 Mei 2012

Gangguan Dismorfik Tubuh (Body Dismorphic Disorder)


Orang dengan gangguan dismorfik tubuh ( body dismorphic disorder/BDD) terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka (APA, 2000). Mereka dapat mengahabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksakan diri didepan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan, bahkan menjalani operasi plastik yang tidak dibutuhkan. Lainnya dapat membuang setiap cermin dari rumah mereka agar tidak diingatkan akan cacat yang mencolok dari penampilan mereka. Orang dengan gangguan ini dapat percaya bahwa orang lain memandang diri mereka jelek atau berubah bentuk menjadi rusak dan bahwa penampilan fisik mereka yang tidak menarik mendorong orang lain untuk berpikir negatif tentang karakter atau harga diri mereka sebagai seorang manusia ( Rosen, 1996). Angka gangguan ini tidak diketahui secara jelas, karena banyak orang dengan gangguan ini yang gagal mencari bantuan atau mencoba untuk merahasiakan simtom mereka (Cororve & Gleaves, 2001). Orang dengan BDD sering menunjukkan pola berdandan atau mencuci, menata rambut secara kompulsif, dalam rangka mengoreksi kerusakan yang dipersepsikan.
Penanganan gangguan ini dengan teknik kognitif behavioral, paling sering pemaparan terhadap pencengahan respons dan restrukturisasi kognitif, juga mencapai hasil yang memberikan harapan (Cororve & Gleaves, 2001). Pemaparan dapat dilakukan dengan sengaja memuncullkan kerusakan yang dipersepsikan didepan umum, dan bukan menutupinya melalui penggunaan rias wajah atau pakaian. Pencengahan respons berfokus pada pemutusan ritual kompulsif, seperti memeriksa didepan cermin (misalnya, dengan menutup semua cermin dirumah) dan berdandan yang berlebihan. Dalam restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan klien yang terdistorsi mengenai penampilan fisiknya dengan cara menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang jelas.
Sumber :
Greene, B., Nevid, JS., Rathus. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta : Penerbit Erlangga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar